Sulung dan Amarah
Menurut ayah, kepalaku sekeras batu. Menurutku, batu itu berat. Kata ibu, hatiku dingin seperti es. Namun membeku adalah caraku menyimpan air agar ia tidak ke mana-mana. Bagi adikku, wajahku merah padam. Bagiku, merah itu berani. Merah adalah garda. Agar adik pertamaku tidak perlu, agar yang kedua bisa mengadu. Wajah galak itu, pakaikan padaku saja, tepat di alis mataku. Bagi beberapa orang, tidak perlu marah untuk didengar. Bagi beberapa orang, itu adalah bentuk keberuntungan yang mahal sekali. Sebagian punya dunia yang aman untuk memeluknya sebelum meradang. Sebagian lagi harus mencoba lebih giat karena beberapa amarah yang bangun terlalu sering itu bukan hanya miliknya. Mereka adalah air yang terbakar, lahir dari api yang menari. Beribu kali mencoba menyelam palung emosi, mencicipi pahit dan gelap dunia jauh sebelum mereka belajar berbicara. Tumbuh dengan api-api yang belum mahir, bertelanjang corak luka yang diwariskan. Mereka yang disebut seram ketika yang...