Akhir-akhir ini sering mengajukan pertanyaan itu kepada diri sendiri. Belajar mengakui, kalau lagi kepayahan, lagi ketakutan, lagi khawatir, lagi kecewa bahkan lagi marah. Namun disisi lain, sedang belajar juga agar segala bentuk fluktuasi emosi tidak menyakiti orang lain.

Akhir-akhir ini sedang dan akan terus belajar menerima, bahwa gak semua orang mengerti posisiku; apa yang sudah ku lalui, apa yang lagi aku hadapi di depan dan apa yang sedang bertarung dalam pikiran. 

Akhir-akhir ini sering memintal doa dan semoga doa ini terus melekat dalam tiap langkah; doa agar merasa cukup atas apa-apa yang sudah dipunya, belajar syukur dalam semua keadaan, belajar sabar atas apa-apa yang mengesalkan, belajar baik sangka atas apa-apa yang ditunda, belajar maaf atas apa-apa yang membuat luka dan belajar berdamai atas kesalahan yang sudah-sudah.

Aku tahu, ada beberapa orang yang diberi kelebihan untuk bodoh amat dengan keadaan dan let it flow, sayangnya rumus itu tidak berlaku pada seseorang sepertiku. Sehingga aku tahu, aku perlu ditenangkan, setidaknya oleh diriku sendiri, saat ini.  

Tapi jika di depan sana nanti, ada seseorang yang memintaku saling berjuang mengarungi perjalanan hidup ini. Maka harus aku pastikan dengan seakurat-akuratnya;
Apakah dia seseorang yang bisa menenangkanku? Atau malah membuat segala hal dalam diriku jadi berantakan hingga jungkir balik. Apakah dia bisa belajar saling mengupayakan sabar? Atau meledak-ledak atau bahkan lari saat ada masalah. Apakah dia bisa belajar menjaga kehati-hatian bicaranya atau malah membentak-bentak saat di hujani amarah? Apakah dia bisa mengupayakan terbuka berbagi cerita tanpa perlu aku minta-minta? Apakah dia bisa menjaga harga percaya yang tak bisa dibeli dengan nilai apapun di dunia ini?

Semakin kesini, aku belajar menggali apa yang sebenarnya aku butuhkan, meski pelan sekali progress-nya. Tak apa ya, diri. 

Semakin kesini, aku belajar bahwa mencapai satu mimpi untuk tergenapi tidak semudah menggantungkan angan-angan. Ada banyak kekecewaan yang telah ku telan, ada banyak harapan yang berakhir terpatahkan, ada banyak tunggu yang tak berujung temu, ada banyak rindu yang berakhir terbenam dalam ragu, ada banyak waktu yang terkuras. Tapi tak apa, sebab aku yakin, aku memperjuangkan sesuatu hal yang pantas.

Ternyata doa-doa saja tidak cukup mencapaimu, aku perlu berbenah. Berbenah saja tidak cukup agar ditemukanmu. Aku harus berjalan, sembari menghapus ketakutan-ketakutan, memupuk banyak keberanian. Keberanian jika suatu hari, aku harus kecewa lagi, terluka lagi, patah lagi. Tapi setidaknya, aku telah mengambil kesempatan; mencarimu, untuk menemukan dan mencapaimu.