Ada hal-hal dalam hidup yang tak perlu dipaksakan untuk dimengerti, dan mungkin salah satunya adalah aku.

Aku pernah menjadi seseorang yang berharap selalu disertakan, yang merasa punya tempat dalam setiap pertemuan, dalam setiap rencana, dalam setiap kebersamaan. Tapi nyatanya, tidak semua tempat menyisakan ruang untuk kehadiranku. 

Tidak semua orang merasa kehilangan saat aku tak ada. Dan tidak semua cerita butuh peran dari diriku. Pada akhirnya, aku belajar bahwa tidak diajak bukan berarti tak berarti. Tidak dilibatkan bukan berarti tak pantas. Hanya saja, dunia tak selalu memutar naskah sesuai dengan keinginan hati kita.

Dulu, aku sering mempertanyakan, "Apa salahku sampai mereka meninggalkanku?"
Kini aku berhenti bertanya. Bukan karena aku sudah tahu jawabannya, tapi karena aku mulai menerima bahwa tak semua jawaban harus dicari. Tak semua ketidakadilan perlu dibalas. Tak semua kehilangan harus digenggam erat. 

Kadang, diam adalah bentuk terkuat dari penerimaan. Bukan karena lemah, tapi karena aku memilih berdamai daripada terus terluka oleh harapan-harapan yang tak lagi hidup.

Aku belajar menerima ketika tak diundang dalam kebahagiaan yang pernah kubantu bentuk. Belajar diam ketika mereka memilih menjauh tanpa alasan. Belajar tidak bertanya saat aku tak dianggap lagi ada. Dan belajar menyembuhkan diri tanpa harus menyalahkan orang lain atas luka-luka yang tertinggal.

Yang lebih berat dari ditinggalkan adalah tetap tinggal di dalam diri yang dipenuhi pertanyaan. Yang lebih menyakitkan dari diabaikan adalah tetap berharap diperhatikan. Tapi aku tahu, aku tak bisa terus menyandarkan damai dalam diriku pada sikap orang lain. Kebahagiaanku, ketenanganku, tidak boleh bertumpu pada tangan-tangan yang bahkan tak ingin menggenggamku.

Aku juga belajar bahwa mereka berhak salah paham tentang diriku. Mereka boleh menuduh, mereka bebas berasumsi, karena penjelasan kadang hanya terdengar oleh mereka yang memang ingin mendengar. Sementara sebagian lainnya sudah menyiapkan kesimpulan bahkan sebelum cerita selesai. Maka aku berhenti menjelaskan, bukan karena tak mampu, tapi karena aku paham: memahami tak bisa dipaksakan, dan diterima tak selalu berarti dijelaskan.

Kini, aku hanya ingin menjadi seseorang yang damai meski berjalan sendiri. Seseorang yang cukup utuh walau tak disadari. Seseorang yang tidak menggantungkan makna hidupnya pada validasi orang lain.

Seseorang yang memaafkan tanpa dimintai maaf. Seseorang yang melepaskan tanpa perlu alasan yang memuaskan. Dan jika suatu hari mereka bertanya, "Kemana kamu selama ini?" Maka aku akan tersenyum kecil dan menjawab dalam hati, "Aku sedang membangun damai, di dalam reruntuhan diriku sendiri."

Karena pada akhirnya, ini tentang aku dan diriku sendiri. Tentang bagaimana aku belajar menerima bahwa tidak selalu jadi prioritas bukan berarti tidak punya nilai.
Dan tentang bagaimana aku mengerti, bahwa menjadi cukup untuk diri sendiri adalah bentuk cinta paling tulus yang bisa aku pelajari.

Dari aku, untuk diriku.
Terima kasih karena sudah tetap tinggal