Dari aku, untuk diriku
Ada hal-hal dalam hidup yang tak perlu dipaksakan untuk dimengerti, dan mungkin salah satunya adalah aku. Aku pernah menjadi seseorang yang berharap selalu disertakan, yang merasa punya tempat dalam setiap pertemuan, dalam setiap rencana, dalam setiap kebersamaan. Tapi nyatanya, tidak semua tempat menyisakan ruang untuk kehadiranku. Tidak semua orang merasa kehilangan saat aku tak ada. Dan tidak semua cerita butuh peran dari diriku. Pada akhirnya, aku belajar bahwa tidak diajak bukan berarti tak berarti. Tidak dilibatkan bukan berarti tak pantas. Hanya saja, dunia tak selalu memutar naskah sesuai dengan keinginan hati kita. Dulu, aku sering mempertanyakan, "Apa salahku sampai mereka meninggalkanku?" Kini aku berhenti bertanya. Bukan karena aku sudah tahu jawabannya, tapi karena aku mulai menerima bahwa tak semua jawaban harus dicari. Tak semua ketidakadilan perlu dibalas. Tak semua kehilangan harus digenggam erat. Kadang, diam adalah bentuk terkuat dari penerima...