PERNAH ADA AKU
Kalau suatu saat, entah kapan, kamu, aku, kita, saling menyerah, marah, lelah, luka, kecewa, sudah tidak bersama; tolong ingat satu. Dalam hidupmu, pernah ada aku.
Pernah ada aku, yang tau segala baik burukmu. Hafal seberapa baik kamu, mengenal sisi gelapmu. Memeluk kebaikan-kebaikan, memaklumi dan paham luka lebam.
Pernah ada aku Pernah ada aku, yang mengingat segala aktivitasmu. Kapan kamu bangun, jam berapa makan, pukul berapa bekerja, lantas khawatir jika ada aktivitasmu yang tidak sesuai agenda. Panik mencari, jika kamu hilang tiba-tiba. Sibuk meminta untuk dikabari. Hanya semata-mata, takut kamu kenapa-kenapa. Khawatirku beralasan. Tidak asal-asalan.
Pernah ada aku Pernah ada aku, yang menyediakan peluk hangat, kapanpun kamu merasa kerdil dan hilang hebat. Menangislah dipelukku. Tertawalah juga disana.
Pernah ada aku Pernah ada aku, yang akan dengan manja merengek kalau kamu lupa salam perpisahan saat kita hendak berjauhan. Memasang wajah muram, kusam. Lalu mengulum senyum malu-malu, saat kamu menghampiri dan menuruti apa mauku.
Pernah ada aku Pernah ada aku, yang menafkahi ego dan keras kepalamu. Menghamba, mengiba negosiasi kala kamu memutuskan untuk pergi. Menangisi kepergianmu. Memintamu untuk selalu kembali. Tidak menutup harap agar kamu sadar dari khilaf. Memaafkanmu tak peduli seberapa banyak aku tersakiti.
Pernah ada aku Pernah ada aku, yang selalu cemburu pada siapapun yang selain aku. Menyulut emosimu ketika memaksakan, dalam hidupmu harus cuma aku. Memberi sindiran-sindiran pelan, menyembunyikan cemburu dalam diam.
Pernah ada aku Pernah ada aku, yang baru aja ketemu, dikit lagi udah kangen. Rewel ketika merindu. Bawel meminta perhatianmu.
Pernah ada aku Pernah ada aku, yang berharap aku tidaklah hanya sekedar pernah. Namun selalu. Jangan berubah. Jangan berpisah. Jangan sekedar pernah
Jangan biarkan aku hilang arah.
Jangan biarkan aku hilang arah.
