RAHASIA MEMAAFKAN
Di awal perkenalan kita dulu, aku pernah bercerita sesuatu kepadamu. Kukatakan bahwa memaafkan itu seumpama perjalanan. Masih ingatkah? Ah iya, semakin hari aku semakin mengamini bahwa, there’s no such a magical thing in forgiving. Memaafkan itu butuh waktu, butuh proses, butuh perjalanan. Apalagi untuk hal-hal yang berat, memaksa seseorang untuk langsung memaafkan saat itu juga saat konfliknya belum usai adalah seperti mendirikan bangunan di tengah badai: rumit, juga sia-sia.
Dulu, aku pernah bertanya-tanya tentang rahasia memaafkan. Apa yang bisa kulakukan untuk memaafkan? Iya, aku pernah sebingung itu untuk memaafkan; entah itu memaafkan orang lain, masa lalu, atau bahkan suatu kejadian yang baru saja berlalu. Rasanya seperti berjalan memutari labirin: salah lagi, salah lagi, hingga lama sekali aku berputar-putar tanpa bertemu dengan jalan keluar. Kamu pernah merasakannya juga, bukan? Semua serba tidak menyenangkan, ya? Kita bahkan bisa jadi masih memikirkannya dalam mata yang terpejam.
Aku pernah mengira bahwa rahasia memaafkan adalah memasrahkan.
Seperti ketika kita tidak tahu lagi apa yang harus dipikirkan atau dilakukan, memasrahkan seringkali menjadi jalan tikus untuk bisa keluar dari suatu keadaan. Kupikir, “Ah, memang sudah seharusnya begini, mungkin semua ini memang sudah seharusnya terjadi. Ya sudah, terima saja.” Sepasif itu, aku bahkan tidak mencoba untuk terlebih dahulu mencari tahu apa yang menjadi kenyataannya. Kamu tahu apa yang kemudian terjadi? Ada yang belum selesai di hatiku. Aku masih menghela napas dengan berat dan semua terasa begitu memberatkan.
Di waktu yang lain, terutama jika berhubungan dengan orangtua, adik, kerabat dan orang orang terdekat seringkali aku berpikir bahwa rahasia memaafkan adalah menunda kemarahan.
Seperti yang sudah bisa ditebak, aku kemudian menaham semua marah dan emosi-emosi tidak menyenangkan itu dengan diam. Ya, sesekali ditambah dengan tidak mau makan atau menolak memberi tanggapan. Namun, lama-lama aku tahu bahwa itu sama sekali tidak menyelesaikan masalah. Perasaan itu tetap pada tempatnya: mengganggu dan membuat resah. Ah, bodohnya aku! Memangnya, siapa yang bilang bahwa aku tidak boleh marah? Marah itu kan boleh, asal aku tahu bagaimana cara mengelola dan mengekspresikannya dengan baik dan terarah.
Lalu, dari lisan orang-orang yang aku temui, aku pernah mendengar bahwa katanya mereka bisa memaafkan, namun belum tentu bisa untuk bersikap yang sama seperti sebelum konflik itu terjadi. Katanya, “Aku sudah maafkan, tapi rasanya aku tidak bisa memperlakukannya dengan baik sebaik dulu lagi.”
Jika begini, rahasia memaafkan jadi seperti hanya mengalihkan kondisi dari negatif ke netral.
Hmm, aku memang seringkali masih merasa sulit untuk benar-benar memaafkan. Tapi, hal ini bagiku jadi kurang masuk akal. Kamu tahu mengapa? Karena ada yang tidak tuntas. Rasa-rasanya, seperti mencabut rumput gajah di halaman rumah, lalu ia tumbuh lagi tumbuh lagi karena akarnya masih tetap ada di sana, di bawah tanah.
Tiga hal di atas rupanya bukan rahasia memaafkan. Lalu apa?
Kukira, rahasia memaafkan adalah pemakluman; memaklumi apa yang orang lain lakukan, meski itu menyakitkan.
Tanpa sadar aku sepertinya sering melakukan ini, kubilang, “Sudahlah, dia memang begitu orangnya. Tidak apa-apa.” Hmm, mengapa aku jadi seolah melakukan pembenaran terhadap perilaku buruk orang lain dan berpikir bahwa ada sebab yang wajar dan dapat dibenarkan atas perilakunya itu? Jangan-jangan, ketika melakukan hal ini, aku hanya sedang tidak mampu mengungkapkan apa yang menjadi rasa dan hak yang semestinya aku dapatkan.
Aku mencoba mencari rahasia lainnya. Lalu kutemukan rahasia dari mereka yang … sepertinya terlalu sayang kepadaku. Ketika seseorang menyakitiku, mereka bilang, “Lupakan saja. Kamu lebih layak mendapatkan yang lebih baik dari ini semua.” Begitu sering aku mendengarnya, hingga lama-lama aku tergerak untuk ingin memercayainya.
Rahasia memaafkan adalah melupakan, sahutku kepada diriku sendiri kala itu. Kamu tahu? Aku susah sendiri dengan rahasia ini!
Betapa tidak, melupakan itu tidak mudah. Tidak ada penghapus maha canggih manapun yang bisa menghapus ingatan hingga seolah-olah kejadian yang menyakitkan itu tidak pernah terjadi. Tentu saja! Semakin dilupakan, semakin ingat. Semakin ingin pergi, semakin diikuti. Bagaimana ini?
Lagi-lagi aku masih salah. Tidak apa-apa. Bukankah ini adalah tentang perjalanan? Maka, inilah perjalananku, melewati banyak kesalahan terlebih dahulu untuk bisa temukan apa yang menjadi kebenarannya. Tapi, aku tidak ingin kamu menempuh perjalanan yang sama jauhnya denganku. Kalau semua bisa lebih singkat, mengapa memilih menempuh jalan yang memutar, bukan?
Hmm, lalu, apa yang sebenarnya menjadi rahasia memaafkan? Tunggu. Sebelum itu, aku ingin memberimu pijakan rahasia. Pijakan rahasia ini, semoga juga bisa menjadi pijakanmu saat sedang harus berhadapan dengan proses memaafkan. Pijakan rahasia itu adalah tentang memaafkan itu sendiri. Sedari tadi kita membicarakannya, namun, tahukah kamu apa arti memaafkan yang sebenarnya?
“Memaafkan adalah proses melepaskan rasa nyeri, kemarahan, dendam, atau pikiran dan perasaan yang mengikat yang disebabkan oleh pelaku. Memaafkan lebih dari sekedar membuang hal-hal negatif, tapi juga menggerakkan seseorang untuk kembali merasakan kebaikan dari pelaku sebab ia juga meliputi perubahan perasaan dan sikap terhadap pelaku."
Lihat? Ini rahasia, ternyata memaafkan bukanlah tentang orang lain. Bukan pula tentang seberapa berdarahnya luka yang timbul karena kesalahan orang lain. Memaafkan pertama-tama selalu tentang diri sendiri; tentang sebuah kesadaran diri untuk beranjak dari perasaan atau pemikiran yang tidak menyenangkan. Sebab kita menyayangi diri sendiri, maka kita memilih untuk memaafkan. Sebab kita ingin menjadi yang disayangi-Nya, maka kita pun memilih untuk memaafkan. Ya, inilah rahasianya: semua berbalik sekaligus bermula dari diri kita sendiri.
Jadi, maukah kamu menyayangi dirimu dengan memaafkan (si)apapun yang bersalah kepadamu?
