RINDU
Pagi ini, dadaku terasa sakit. Nyeri sekali. Mungkin, anak-anak rindu yang sengaja kumatikan sudah tak lagi bisa mati. Mungkin, mereka sedang bahu-membahu berusaha merobohkan pagar yang susah payah kubuat untuk menghambat laju rindu.
Aku kalah, ray. Kalah, bukan mengalah.
Mereka terlalu kuat untuk kutahan sendirian.
Mereka terlalu kuat untuk kutahan sendirian.
Aku berantakan sekaligus gemetaran.
Bagaimana bisa tunas rindu berubah menjadi musuh yang paling menakutkan dan mematikan?
Rinduku beranak-pinak. Sayang, kamu tidak bisa kuberitahu.
Tapi, Ray, kita sama-sama tahu kan, penyakit harus diobati. Bagaimanapun caranya. Entah si obat menang atau penyakit yang jadi juara.
Aku ingin kamu membantuku, Ray. Membantu mengobati apa yang aku sebut penyakit. Aku sama sekali tidak bermaksud mengganggumu. Tidak.
Ah, Ray.
Sudahlah. Ini konyol.
Toh, aku yang kalah.
Sudahlah. Ini konyol.
Toh, aku yang kalah.
