DIA
Dia ini istimewa. setidaknya di mataku, meski ia tak selalu ada seperti tokoh di kisah roman kebanyakan. Ia selalu bisa mengukir senyum di bibirku bahkan hanya dengan caranya menatapku.
Entah senyawa apa yang terkandung dalam bola mata coklatnya sehingga setelah mata kita bertemu, seketika itu juga terjadi reaksi bagai atom yang saling menarik dalam ikatan kimia.
Ku harap ini bukan jatuh cinta.
Bersamanya aku tak perlu repot memilih topeng mana yang harus ku kenakan karena ia membuatku terbiasa untuk terbuka.
Bersamanya aku bisa menceritakan banyak hal hingga larut malam sampai salah satu di antara kita tertidur.
Bersamanya aku selalu yakin dalam mengambil langkah.
Dan bersamanya pula, aku merasa takut.
Aku takut. Takut kalau-kalau nyatanya ia bukan yang dipersiapkan Tuhan untukku.
Ku harap ini bukan jatuh cinta.
Dia juga membingungkan. Kadang ia sangat dekat bagai huruf A dan S dalam papan ketik. Kadang ia sejauh kedua kutub bumi. Dan banyak kadang-kadang yang lainnya yang menimbulkan konflik batin setelahnya.
Ku harap ini bukan jatuh cinta.
Dia datang memberi pelajaran.
Tentang bersikap, mengambil keputusan, menghargai perbedaan, sampai mengikhlaskan sesuatu yang memang bukan milik kita. Kemudian juga memaksaku untuk kuat dalam pendirian dan cara pandang.
Ku harap ini bukan jatuh cinta. Banyak ingin ku ceritakan perihal sosok Dia. Tetapi sayang, dia baru saja menyuruhku tidur dan aku tak bisa menolak. Ku harap ini bukan jatuh cinta.
